A Free Template From Joomlashack

A Free Template From Joomlashack

Si Kabayan, Mengabdi dan Mengabadi PDF Print E-mail
Written by Mang Kabayan   
Tuesday, 14 August 2007 15:07

Semua pengarang yang membentuk tokoh si Kabayan ini menitikberatkan inti cerita kepada kritik sosial. Dalam bahasa Sunda--meminjam istilah Achdiat K. Mihardja--disebut dengan ngageuhgeuykeun (berolok-olok). Sehingga, kritik yang disampaikan tidak berasa kritik. Akan tetapi, terkesan sesuatu yang lucu sehingga orang tertawa dibuatnya. Padahal sejatinya, mereka pada akhirnya menertawakan diri mereka sendiri. Dan itu bagus, seperti kata pepatah, "Jiwa yang matang (tidak cengeng) adalah yang bisa menertawakan dirinya sendiri." Pada akhirnya, tugas memberi makan dan menghidupi si Kabayan berada di tangan kita. Kitalah yang menentukan tokoh ini akan terus hidup ataukah mati terlindas zaman. Mari kita lestarikan tokoh si Kabayan! Mari kita nikmati warisan leluhur kita ini! Mari kita berbahagia dan tertawa, seperti pesan si Kabayan, "Ketawalah! Ketawalah! Kini ketawamu penangkis tangis, besok penabur cahaya bahagia."

Si Kabayan, Mengabdi dan Mengabadi

 

DI nusantara ini, tidak ada daerah yang sangat kaya akan cerita-cerita atau dongeng lucu seperti di daerah Pasundan Jawa Barat (Uilenspiegelverhalen in Indonesia, Dr. Coster-Wijsman, Leiden, 1929).

 

Bahkan, acara-acara televisi seperti Negeri Impian, Democrazy, atau yang sejenisnya tidak terlepas dari warna Sunda. Acara-acara reality show atau kontes-kontes pelawak, sejatinya adalah menunjukkan warna-warni Sunda.

 

Sebelum melangkah ke budaya literasi, negeri kita terkenal dengan budaya bertutur. Hal ini pula yang menyebabkan negeri kita ketinggalan langkah jika dibandingkan dengan Jepang, misalnya. Dari bertutur itu kemudian lahir dongeng-dongeng atau cerita. Dongeng-dongeng tersebut diperuntukkan bagi anak-anak menjelang tidur mereka.

 

Setelah Guttenberg berhasil menciptakan mesin cetak, dan terlihat dampak positifnya bagi negara lain, kemudian negara kita perlahan beralih ke dunia tulis dan baca. Maka, dongeng-dongeng yang diceritakan kemudian dialihkan ke dalam tulisan, meski budaya bercerita tidak lekang begitu saja.

 

Salah satu transformasi dari budaya bertutur ke dalam tulisan adalah lahirnya seorang tokoh. Tokoh lucu, sekaligus pintar walau kelihatannya bodoh. Dia adalah si Kabayan. Siapa yang tidak kenal dengan si Kabayan? Tokoh nyeleneh ini bahkan sudah sangat mendarah-daging. Bahkan, menjadi istilah bagi siapa saja yang pemalas. "Ah, maneh mah ngedul kawas si Kabayan (ah, kamu pemalas seperti si Kabayan)."

 

Sebagaimana tokoh lain, seperti si Roy (Gola Gong), Lupus (Hilman), dan yang lainnya, si Kabayan juga memiliki "pencipta". Bahkan, pencipta atau pemberi warna tokoh si Kabayan ini bukan hanya satu orang.

 

Orang pertama yang mencipta tokoh Kabayan ke dalam bentuk cerita adalah Utuy Tatang Sontani (tahun ’50-an). Ceritanya bahasa Indonesia modern. Cerita ini mengandung kritik sosial. Tidak hanya dibaca, tetapi juga sudah sampai dipentaskan dalam bentuk pentas drama.

 

Setelah Utuy, bermunculanlah Kabayan-Kabayan yang lain, dalam bentuk cerpen modern. Seperti Ajip Rosidi (1964) dalam bahasa Indonesia, M.A. Salmun (1965), dan Min Resmana (1967) dalam bahasa Sunda. Cerita-cerita Kabayan ini kemudian mengikuti warna si penciptanya. Kabayan versi Utuy, Ajip Rosidi, M.A. Salmun, Min Resmana, Achdiat K. Mihardja, kemudian mengikuti gaya penciptanya. Maka, dalam tataran cerita dari waktu ke waktu, si Kabayan kemudian mengalami multitransformasi. Dan itulah yang membuat tokoh ini menjadi kekal di masyarakat.

 

Semua pengarang yang membentuk tokoh si Kabayan ini menitikberatkan inti cerita kepada kritik sosial. Dalam bahasa Sunda--meminjam istilah Achdiat K. Mihardja--disebut dengan ngageuhgeuykeun (berolok-olok). Sehingga, kritik yang disampaikan tidak berasa kritik. Akan tetapi, terkesan sesuatu yang lucu sehingga orang tertawa dibuatnya.

 

Padahal sejatinya, mereka pada akhirnya menertawakan diri mereka sendiri. Dan itu bagus, seperti kata pepatah, "Jiwa yang matang (tidak cengeng) adalah yang bisa menertawakan dirinya sendiri."

Pada akhirnya, tugas memberi makan dan menghidupi si Kabayan berada di tangan kita. Kitalah yang menentukan tokoh ini akan terus hidup ataukah mati terlindas zaman.

 

Mari kita lestarikan tokoh si Kabayan! Mari kita nikmati warisan leluhur kita ini! Mari kita berbahagia dan tertawa, seperti pesan si Kabayan, "Ketawalah! Ketawalah! Kini ketawamu penangkis tangis, besok penabur cahaya bahagia." (Atih Ardiansyah, mahasiswa Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, penulis buku "Beginilah Seharusnya Hidup")***

 

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=28884

Last Updated on Thursday, 29 October 2009 06:34
 
Joomla 1.5 Templates by Joomlashack