A Free Template From Joomlashack

A Free Template From Joomlashack

Kembang Gadung - Bunga Dalam Seni Kebudayaan PDF Print E-mail
Written by Mang Kabayan   
Monday, 09 August 2004 22:30

Untuk mengenal nama-nama bunga dan maknanya dalam lagu-lagu tadi dibutuhkan pengetahuan botani lokal. Mengapa ada lagu Kembang Gadung, misalnya? Warnanya apa, bentuknya bagaimana, baunya bagaimana, kegunaan sehari-harinya buat apa? Jawaban-jawaban itu semua dapat menuntun mengapa lagu Kembang Gadung dinyanyikan di saat-saat tertentu dalam rangkaian tarian dan lagu. Atau justru maknanya pada gadung itu sendiri yang bisa bikin mabuk keracunan bagi manusia? Setara dengan trance? Lagu dan musikalitas adalah sabda, ucapan. Fungsinya adalah mantra. Yantra, mantra, mudra (sikap tangan dalam tari), adalah medium-medium Tantra. Nada-nada musik adalah kata-kata atau sikap tubuh dalam tarian (mudra) yang membentuk satu lagu atau satu tarian sebagai yantra meditasi atau mistisme. Ilmu tentang ini amat banyak dalam berbagai ajaran sekte tantris. Lalu sintren ini sebenarnya bersumber dari ajaran tantris yang mana? Apakah sintren ada hubungannya dengan kata tantra itu sendiri? Bukankah pertunjukan sintren diharapkan membawa berkah bagi penanggap dan penontonnya? Berkah apa yang diharapkan dengan nama-nama bunga yang disebut dalam sintren?

Bunga Dalam Seni Kebudayaan

Oleh Jakob Sumardjo

 

DALAM kebudayaan lama Indonesia banyak ditemui nama-nama bunga dalam nyanyian, dalam gambar, dalam nama-nama tokoh mitos. Pada lagu-lagu sintren terdapat nama-nama Kembang Gewor, Kembang Laos, Kembang Andul-andul. Pada cerita pantun ada judul Pakujajar Beukah Kembang, nama Mundinglaya Dikusumah, Aci Malati, Agan Raksa Kembang. Pada relief, patung, gambar perangkat gamelan, terdapat bunga-bunga dan sulurnya.

 

Dalam kebudayaan modern Indonesia, gejala ini masih berlanjut. Banyak lagu-lagu yang mengambil judul nama bunga, seperti Melati di Jayagiri, Kisah Mawar di Malam Hari, Kemuning, Di Bawah Pohon Kemboja. Dan kalau kita amati, bunga hampir selalu dihubungkan dengan perempuan, kesusastraan, musik, tari, teater.

 

Masalahnya, apakah gejala hubungan-hubungan ini hanya kebetulan saja, atau mempunyai dasar gagasan atau konsep yang lebih mendalam? Apakah gejala semacam ini merata di seluruh Indonesia atau hanya di lingkungan budaya tertentu? Atau adakah bangsa-bangsa lain yang mempunyai tradisi yang sama dengan Indonesia?

 

Perempuan & bunga

 

Dalam pantun Budak Manjor diceritakan Sunan Ambu Ratu Agung Pamuhunan menciptakan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dari sebatang kembang jaksi. Tangkainya dijadikan anak laki-laki buruk rupa yang dinamakan Budak Manjor, sedang bunga jaksi dijadikan anak perempuan buruk rupa juga yang dinamakan Si Genjru. Sepasang anak kembar ini menjadi penolong utama kerajaan Kuta Maralang ketika menghadapi masalah-masalah kenegaraan yang gawat.

 

Dari cerita ini jelas bahwa bunga simbol perempuan. Sedangkan tangkai simbol laki-laki. Bunga sebagai simbol perempuan tampak jelas dalam budaya Indonesia modern, seperti Kisah Mawar Di Malam Hari, adalah simbol wanita tuna susila (eufimisme pelacur). Asal usul simbol bunga sebagai perempuan terdapat dalam kepustakaan Hindu-Budha-Indonesia.

 

Sumber ajaran ini adalah aliran Tantra atau Tantrisme yang berlaku di kalangan penganut agama Budha Mahayana maupun dalam agama Siwaisme. Salah satu sekte agama Budha, Budhisme adalah Wajrayana (Bajrayana) terdapat paham Bajradatu. Mandala adalah Yantra atau medium inderawi untuk mencapai tingkat mistisme, penyatuan yang duniawi-jasmani dengan yang surgawi-rohani. Dalam penyatuan ini, daya-daya supernatural hadir dalam dunia manusia. Dalam yantra terbentuk gambar berupa lingkaran dalam bujur sangkar atau bujur sangkar dari lingkaran. Lingkaran simbol keabadian tanpa batas atau kesempurnaan, sedang bujur sangkar dunia manusia terbatas atau sementara.

 

Medium kehadiran daya-daya adikodrati yang sempurna ini dapat diwujudkan (visualized) dalam bentuk-bentuk seni musik, seni rupa, seni lakon, dan seni tari. Dengan demikian, jenis-jenis seni kita kenal secara modern ini, di Indonesia lama sebenarnya merupakan semacam ibadah Hindu-Budha untuk mencapai kesatuan dengan rohani absolut di dunia manusia, yaitu hadirnya daya-daya gaib atau transenden bagi kepentingan kesejahteraan umat manusia.

 

Teater atau lakon, tari, sastra, musik dan seni rupa, di zaman Hindu-Budha tak terpisahkan satu dengan yang lain. Semuanya itu menyatu sebagai yantra atau medium meditasi untuk mencapai kesatuan dengan absolut. Medium, yantra, the way, ini dibagi dalam tiga kategori, yakni luar (tangible), dalam (visualized atau tangible-intangible) dan rahasia atau gaib (intangible).

 

Dalam bentuk tangible atau luar atau tampak, bentuk mandalanya diwakili empat dewi di arah empat mata angin semesta yang masing-masing menguasai atau berupa bunga, lampu atau api, kemenyan atau dupa, dan bau-bauan. Keempatnya disatukan dalam visualisasi simbolik berupa musik dan lagunya. Dengan demikian jelaslah, mengapa para sinden atau pelantun syair dalam lagu-lagu sintren atau ritual mana saja, selalu harus perempuan.

 

Pertunjukan musik dan syair dalam ritual lama adalah simbol pusat mandala perempuan empat dewi, yakni puspa (bunga), loka (lampu, api), dupa (kemenyan), dan gandha (bau-bauan). Tidak mengherankan apabila banyak nama lagu ritual mengambil judul nama-nama bunga, nama-nama bau-bauan, nama-nama damar (lampu), dan nama-nama dupa. Semuanya itu bersifat perempuan.

 

Alamat perempuan itu sangat penting dalam aliran Tantrisme. Perempuan adalah sakti, potensi diam-statis, potensi yang belum menjadi energi, eksistensi, aktualisasi. Sakti-perempuan ini baru berwujud dalam eksistensi kalau dikawinkan dengan asas laki-laki, disimbolkan dalam bentuk lingga, tangkai bunga, Siwa. Peristiwa tantrik, dengan demikian adalah, peristiwa perkawinan kosmik sekaligus perkawinan potensi dan wujud. Yang impoten menjadi omnipoten, yang duniawi menjadi surgawi, yang kekeringan menjadi hujan, yang sakit menjadi sembuh, yang mati menjadi hidup.

 

Hubungan bunga dan perempuan di Indonesia, bukan kebetulan, tetapi bersumber dari alam pikiran tua.

 

Tantrisme-primordial

 

Sebelum masuknya kepercayaan Hindu-Budha Tantra di Indonesia, terutama di Jawa, Bali, dan Sumatra, bangsa kita ini telah memiliki dasar pemikiran yang serupa, yakni kepercayaan primordial tentang Yang Tunggal dan Yang Banyak. Yang Plural ini hakikatnya tunggal. Keberadaan yang aneka rupa ini pada dasarnya hanya terdiri dari dua prinsip yang saling berlawanan namun saling mengadakan, yakni prinsip laki-laki dan prinsip perempuan. Adanya yang satu karena adanya yang lain. Kita mengenal makna "ini" karena ada "itu". Tidak ada perempuan tidak ada laki-laki. Tidak ada laki-laki tidak ada manusia.

 

Prinsip perempuan dalam bunga digenapi oleh prinsip laki-laki dalam tangkai. Prinsip perempuan pada malam dan bulan digenapi oleh prinsip laki-laki dalam siang dan matahari. Dan seterusnya sampai detail semesta ini dapat disebut. Kosong dan isi. Potensi dan aktualisasi.

 

Dalam seni dan bunga tadi, gamelan pengiring lagu hanya dapat ditabuh oleh laki-laki, karena instrumen gamelan (gangsa) kebanyakan benda logam (keras, laki-laki). Sedangkan nyanyian dan syair yang banyak menyebut nama bunga, dupa, damar dan wewangian tadi selalu dilantunkan perempuan (sinden). Kombinasi keduanya mewujudkan sebuah mandala yang mengawinkan asas perempuan dan laki-laki menjadi satu peristiwa. Itulah saat-saat transenden.

 

Gejala asas laki-laki dan perempuan kosmik tadi melahirkan apa yang dikenal sebagai mikrokosmos adalah makrokosmos. Manusia itu semesta, dan semesta adalah manusia. Ada manusia laki-laki dan ada kosmos laki-laki. Secara jasmaniah unsur-unsur manusia adalah sama dengan unsur-unsur alam, yakni tanah, air, api, dan angin. Tanah dan air mengandung potensi turun, sedang api dan angin mengandung potensi naik. Gravitasi dan anti gravitasi. Manusia dan alam mengandung potensi-potensi yang sama.

 

Pandangan tua ini menyebabkan terjadinya peristiwa tarian atau nyanyian minta hujan. Tarian dan nyanyian tersebut medium mengawinkan prinsip laki-laki dan prinsip perempuan semesta. Tanah dan air yang perempuan, dan angin serta api yang laki-laki. Itulah sebabnya simbol-simbol laki-laki dan perempuan ada di mana-mana di artefak budaya masyarakat Indonesia lama. Dan dengan sendirinya simbol-simbol perkawinan keduanya, bertemunya simbol laki-laki dan simbol perempuan.

 

Dipandang secara modern, bangsa Indonesia itu suka pronografis. Sebenarnya justru sangat religius dan spiritual.

 

Bunga dalam sintren

 

Pertunjukan sintren di daerah Cirebon dan Pamalang adalah pertunjukan perempuan. Nyanyiannya penuh dengan nama-nama bunga. Penarinya anak perempuan yang belum akil balig. Hanya penabuh dan pawangnya laki-laki. Penari yang perawan kencur belum mengalami menstruasi. Inilah perempuan suci, belum kekotoran. Dia merupakan medium paradoks yang ideal, perempuan yang belum perempuan. Atau sebaliknya perempuan tengah baya yang sudah berhenti menstruasi, seperti di Rancakalong.

 

Maksud sintren dapat disimak dari lagu-lagunya. Tarian sintren mengundang empat puluh bidadari turun ke dunia ini. Lagu pertama berjudul Turun Sintren. Sintrennya bidadari yang menemukan bunga di ayunan, yakni kembang Siti Maindra, bidadari empat puluh.

 

Kemudian dalam lagu Sih Salasih, disebutkan Salasih Sulandana (biji bunga) dan kemenyan mengundang para dewa. Perhatikan sisa-sisa para dewi penguasa dupa dan bunga atau biji atau makanan (naiwidya) yang dalam bahasa Jawa menjadi wiji (biji) dan senada dengan widya (pengetahuan). Lalu lagu-lagu Kembang Gewor, Kembang Laos, Kembang Suru Putih, dan lain-lain. Semuanya itu mengingatkan kita pada ritual wajrayana di masa lampau. Tentu saja sudah tidak lengkap seperti aslinya dahulu.

 

Untuk mengenal nama-nama bunga dan maknanya dalam lagu-lagu tadi dibutuhkan pengetahuan botani lokal. Mengapa ada lagu Kembang Gadung, misalnya? Warnanya apa, bentuknya bagaimana, baunya bagaimana, kegunaan sehari-harinya buat apa? Jawaban-jawaban itu semua dapat menuntun mengapa lagu Kembang Gadung dinyanyikan di saat-saat tertentu dalam rangkaian tarian dan lagu.

 

Atau justru maknanya pada gadung itu sendiri yang bisa bikin mabuk keracunan bagi manusia? Setara dengan trance?

 

Lagu dan musikalitas adalah sabda, ucapan. Fungsinya adalah mantra. Yantra, mantra, mudra (sikap tangan dalam tari), adalah medium-medium Tantra. Nada-nada musik adalah kata-kata atau sikap tubuh dalam tarian (mudra) yang membentuk satu lagu atau satu tarian sebagai yantra meditasi atau mistisme. Ilmu tentang ini amat banyak dalam berbagai ajaran sekte tantris. Lalu sintren ini sebenarnya bersumber dari ajaran tantris yang mana? Apakah sintren ada hubungannya dengan kata tantra itu sendiri? Bukankah pertunjukan sintren diharapkan membawa berkah bagi penanggap dan penontonnya? Berkah apa yang diharapkan dengan nama-nama bunga yang disebut dalam sintren?

 

Dalam pertunjukan sintern selalu ada sesajen, kemenyan, gamelan, nyanyian, tarian, dan mantra. Sesajen adalah benda-benda tampak (kategori luar atau kasar) berupa air, bunga, makanan, kemenyan, wangi-wangian. Sesajen tampak ini diabstraksikan dalam kata-kata dan lagu (mantra) dan diaktualisasikan dalam diri penari. Penari adalah pusat mandala, gua garba hadirnya yang absolut. Inilah sebabnya suara gamelan dan lagu syair tak berhenti-hentinya mengiringi si penari. tidak ada kehadiran tanpa suara gamelan dan sinden.

 

Gejala serupa ini tampak dalam berbagai pertunjukan gaib di Sunda. Dalam debus misalnya, kekebalan hadir selama lagu-lagu dilantunkan. Keajaiban-keajaiban pertunjukan selalu terjadi dalam mantra-mantra ini, yakni musik dan syairnya.

 

Penutup

Masih amat banyak pekerjaan rumah untuk menguak makna bunga dalam artefak-artefak budaya Indonesia. Bunga bukan faktor kebetulan dalam seni. Bunga memiliki dasar filosofis

dalam artefak budaya Indonesia. Bunga, perempuan, primodial, tantra, itulah kuncinya.***

 

Penulis, budayawan Sunda.

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=33716

 

Last Updated on Thursday, 19 November 2009 02:52
 
Joomla 1.5 Templates by Joomlashack