Home
Cuplikan Uga Wangsit Siliwangi

Berjayannya orang buta (tidak melihat dirinya sendiri secara lahir bathin, krn nafsu yang tidak terkendali), maka tidak akan terlalu lama memimpin, karena memang mereka keterlaluan menyengsarakan rakyat, banyak rakyat yang mengharapkan pohon beringin tumbang di alun alun.  Orang buta akan jadi tumbal, tumbal kelakuan sendiri. kapan waktunya? nanti ketika terlihat/ muncul pengembala (pembawa berita untuk para warganya). dari situ banyak yang ribut, di mulai dari dalam dapur, dari dapur menjadi satu kampung, dari satu kempung menjadi satu negara. yang bodoh menjadi gila membantu yang berkelahi, di ketuai oleh budak buncireng (budak buncireng = orang berperut besar )! 

Read more...
 
"Lauk Cai" Jadi Ikon Jawa barat

Orang tua di Tatar Sunda menyebut ikan air tawar sebagai "lauk cai". Ikan bagi masyarakat Pasundan telah menjadi bagian kehidupan. Hal ini dimungkinkan karena sumber daya alam di Jawa Barat pada umumnya memiliki sumber daya air yang memadai bagi tumbuh dan berkembangnya ikan. Keberadaan balong tetenong (kolam comberan) di seputar rumah banyak ditemui di pelosok perkampungan. Budaya memelihara ikan di tanah Pasundan sudah tertanam sejak para petinggi Kerajaan Galuh - lebih kurang 300 tahun lalu mulai menggali sebagian bantaran sungai sebagai tempat menyimpan ikan. Setelah itu, mereka berangsur-angsur memelihara ikan di kolam atau di sawah. Pengalaman turun-menurun memelihara ikan akhirnya tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan lauk keluarga saja, tetapi berubah juga menjadi ladang usaha guna memperoleh penghasilan.

Read more...
 
Opak Gairahkan Desa Conggeang

”Kalau tidak bekerja, keluarga saya susah karena hanya mengandalkan penghasilan suami dari usaha ojek,” kata Cicih (40), pekerja di pabrik Opak Oded. Dengan bekerja, setidaknya Cicih membawa pulang upah Rp 6.000-Rp 15.000 per hari. ”Di desa mah uang segitu sudah besar. Sebab, saya hanya beli lauk, sedangkan beras dari hasil panen masih cukup hingga panen berikutnya,” tutur Cicih. Opak adalah panganan dari nasi ketan yang ditumbuk dan parutan kelapa. Nasi ketan dan kelapa dicampur lalu dibentuk bulat pipih. Sebagian besar opak Conggeang berdiameter tujuh sentimeter. Nasi ketan yang sudah dibentuk, dijemur seharian dan dibakar di atas bara arang yang ditutupi abu gosok.Karena opak Conggeang sangat tergantung pada pemanasan sinar matahari, rasanya pun berbeda jika musim berganti. Pada musim kemarau akan dihasilkan opak paling enak karena lebih renyah.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>

Results 1 - 13 of 87

Product Scroller

The Sunda Kindom of West Java
The Sunda Kindom of West Java
Rp57 200.00
Add to Cart


Polls

Kasundaan website was ....
 

Who's Online